Nginx dan Apache sama-sama dapat digunakan untuk menjalankan aplikasi Laravel di VPS. Pelajari perbedaan Nginx vs Apache dari sisi performa, konfigurasi, keamanan, penggunaan resource, PHP-FPM, SSL, hingga rekomendasi server yang paling cocok untuk Laravel.
Sebelum aplikasi Laravel dipindahkan ke VPS production, ada banyak konfigurasi yang perlu diperiksa. Checklist ini membahas hal penting mulai dari .env, database, APP_DEBUG, permission, cache, Queue, Scheduler, Redis, web server, SSL, hingga optimasi Laravel production.
File .env merupakan bagian penting dalam konfigurasi aplikasi Laravel. Artikel ini membahas fungsi .env, perbedaan environment development dan production, penggunaan env() dan config(), konfigurasi database, Redis, APP_DEBUG, APP_KEY, hingga praktik aman saat deployment ke production.
Laravel Scheduler membutuhkan Cron agar task dapat berjalan otomatis di server. Panduan ini membahas konfigurasi Cron yang benar di Ubuntu, cara menguji schedule:run, memeriksa timezone, permission, PHP path, dan mengatasi Scheduler yang tidak berjalan.
Laravel Queue Worker harus terus berjalan agar Job dapat diproses. Supervisor dapat menjaga Worker tetap aktif, melakukan restart otomatis ketika Worker berhenti, dan menjalankan Queue secara stabil di Ubuntu VPS.